Banner Atas

UMY Latih Pramuka Sleman Literasi Rambu Kebencanaan

SLEMAN – Bencana alam dapat terjadi kapan saja tanpa diduga. Karena itu, upaya yang paling penting dilakukan manusia adalah meminimalisir risiko melalui mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya literasi kebencanaan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui program pengabdian masyarakat menggelar diskusi dan simulasi literasi bencana berbasis rambu kebencanaan.

Kegiatan ini dilaksanakan bersama adik-adik dan kakak-kakak Pramuka Kwarcab Kabupaten Sleman di Bumi Perkemahan Gugur Gunung, Margodadi, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 14 Februari 2026.

Dalam pelatihan tersebut, Dosen Ilmu Komunikasi UMY, Kak Zein Mufarrih Muktaf, menegaskan pentingnya pemasangan rambu-rambu informasi kebencanaan di setiap kawasan maupun gedung. Menurutnya, rambu kebencanaan merupakan bagian dari kognisi paling dasar dalam menyadari dan memahami risiko bencana di suatu wilayah.

“Saya menyadari bahwa masih banyak kawasan dan gedung yang belum memikirkan dan menerapkan rambu mitigasi bencana. Menurut saya penerapan ini penting agar masyarakat tetap memiliki kewaspadaan, minimal tahu ke mana harus menyelamatkan diri jika bencana terjadi,” ujar Kak Zein.

Ia juga menekankan bahwa peran Pramuka sangat strategis sebagai agen literasi bencana di lingkungan masing-masing. Dengan aset sumber daya manusia dan pengalaman yang dimiliki, Pramuka dinilai mampu menjalankan program-program literasi kebencanaan secara lebih terarah dan sistematis.

Senada dengan itu, Kak Bambang Pamungkas dari Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) sekaligus penanggung jawab kegiatan menyampaikan bahwa Pramuka merupakan salah satu elemen relawan penting dalam respons bencana. Hal tersebut terlihat dari beberapa Satuan Karya (Saka) yang memiliki Krida khusus di bidang kebencanaan.

“Krida pada Saka di Pramuka ada yang fokus pada kebencanaan, seperti Saka Wira Kartika dan Saka Bhayangkara. Hal ini yang membuat Pramuka siap dalam proses tanggap bencana,” jelas Kak Bambang.

Sebanyak 50 anggota Pramuka dari Kwarcab Sleman yang mayoritas berasal dari kalangan SMA dan SMK tampak antusias mengikuti pelatihan. Dalam sesi praktik, setiap tim diminta membuat peta risiko serta merancang perencanaan pengadaan rambu dan papan informasi kebencanaan di kawasan mereka. Masing-masing kelompok kemudian mempresentasikan hasil peta risiko beserta rancangan rambu yang telah disusun.

Di akhir kegiatan, dilakukan penyerahan hibah dari Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY berupa rambu dan papan informasi kebencanaan untuk mendukung kebutuhan Pramuka dalam mengedukasi masyarakat. Hibah tersebut diterima secara simbolis oleh Kak Viona Windarti yang mewakili Kwarcab Sleman.

Melalui kegiatan ini, UMY berharap literasi kebencanaan tidak hanya berhenti pada tataran diskusi, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata melalui pemasangan rambu-rambu yang informatif dan mudah dipahami masyarakat.

Dengan demikian, kesadaran kolektif terhadap mitigasi bencana dapat semakin meningkat, khususnya di wilayah Sleman dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Posting Komentar

0 Komentar